Dyah Argarini

Guru Bahasa Inggris di Madrasah Tsanawiyah Negeri 4 Kota Surabaya. Suka menulis dan membaca apa saja. Mendukung literasi dengan daya dan upaya untuk kemajuan an...

Selengkapnya
Pendidikan Karakter Bukan Sim Salabim

Pendidikan Karakter Bukan Sim Salabim

Beberapa tahun belakangan ini, semenjak Kurikulum 2013 digulirkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional, di berbagai forum workshop, diskusi dan diklat di bidang pendidikan ramai dibicarakan mengenai pendidikan karakter. Oleh karenanya istilah pendidikan karakter sangat akrab di telinga para pendidik dan tenaga kependidikan. . Ibaratnya orang jawa sudah merupakan 'sego jangan', hal pokok yang tidak boleh ditinggalkan pada semua aspek pembelajaran.

Dalam Wikipedia Pendidikan karakter didefinisikan sebagai bentuk kegiatan manusia yang didalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik diperuntukkan bagi generasi selanjutnya yang bertujuan untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju ke arah hidup yang lebih baik.

Selanjutnya pada Kurikulum 2013 disebutkan bahwa ada 18 karakter yang perlu dibiasakan kepada para siswa meliputi 1) Religius, 2) Jujur, 3) Toleransi, 4) Disiplin, 5) Kerja keras, 6) Kreatif, 7) Mandiri, 8) Demokratis, 9) Rasa ingin tahu, 10) Semangat Kebangsaan, 11) Cinta Tanah Air, 12) Menghargai Prestasi, 13) Bersahabat/Komunikatif, 14) Cinta Damai, 15) Gemar Membaca, 16) Perduli pada Lingkungan, 17) Perduli Sosial, 18) Tanggung Jawab.

Sekolah maupun madrasah merupakan tempat dimana anak anak hampir setiap harinya berada di dalamnya. Maka sekolah dan madrasah sangat berperan penting dalam pembentukan karakter anak yang menjadi peserta didiknya. Kedelapan belas karakter tersebut harus mulai sejak dini ditanamkan dalam diri peserta didik agar peserta pada akhirnya memiliki karakter yang diharapkan. Karakter yang baik itu bukan serta merta terbentuk, bukan dengan sim salabim juga karakter baik itu melekat dalam pribadi anak. Ulat tidak langsung menjadi kupu kupu. Semua harus melalui proses yang terencana. Oleh karena itu sekolah maupun madrasah wajib merencanakan, membuat dan melaksanakan program program yang bisa membentuk karakter yang baik pada diri peserta didiknya dengan menggunakan metoda pembelajaran yang efektif. Diantara program pembelajaran yang efektif adalah kegiatan pembiasaan.

Menurut Ahmad Fauzi, seorang praktisi pendidikan di kota Semarang, kegiatan pembiasaan merupakan proses pembentukan sikap dan perilaku yang relatif menetap dan bersifat otomatis melalui proses pembelajaran yang berulang ulang baik dilakukan bersama maupun sendiri sendiri, bisa dilakukan secara terjadwal maupun tidak terjadwal, baik di dalam maupun di luar kelas. Kegiatan tersebut dapat bersifat rutin, spontan, terprogram dan keteladanan.

Kegiatan pembiasaan yang bersifat rutin dilakukan secara reguler dan terus menerus. Biasanya dilakukan secara bersama sama seluruh peserta didik dan terjadwal. Misalnya, untuk membiasakan karakter religious para peserta didik bersama dengan bapak ibu guru berdoa sebelum dan sesudah kegiatan pembelajaran di dalam kelas; melaksanakan sholat dhuha, dhuhur dan ashar berjamaah di masjid sekolah; dan berinfaq setiap pagi sesudah berdoa. Contoh lain misalnya untuk mengembangkan karakter disiplin dan cinta tanah air maka sekolah mengadakan upacara bendera setiap hari Senin, menyanyikan lagu Indonesia raya dan lagu lagu wajib nasional lainnya.

Kegiatan yang bersifat spontan bisa juga dilakukan untuk mengembangkan karakter peserta didik. Kegiatan ini dilakukan tidak terbatas pada ruang dan waktu. Misalnya untuk membentuk karakter cinta pada lingkungan, siswa dibiasakan untuk membuang sampah pada tempatnya, meminimalisir banyaknya sampah plastik di sekolah dengan membawa peralatan makan sendiri, dan bertanggung jawab untuk mencuci piring serta gelasnya setiap kali sesudah makan. Membiasakan diri untuk antri di kantin sekolah saat membeli makanan juga memupuk karakter disiplin dan toleransi sekaligus. Mengucapkan salam kepada bapak ibu guru dan teman selain membiasakan siswa untuk komunikatif tetapi juga membentuk watak anak memiliki sikap sopan santun kepada sesama.

Kegiatan terprogram merupakan kegiatan yang direncanakan oleh sekolah maupun madrasah disesuaikan dengan kalender pendidikan atau Rencana Kegiatan Sekolah pada setiap tahun ajaran. Misalnya kegiatan lomba lomba dalam class meeting setiap kali selesai Penilaian Akhir Semester. Kegiatan seperti ini dapat membangun karakter kreatif, mandiri dan tanggung jawab dari peserta didik. Bakti sosial yang diadakan setiap peringatan Aniversary sekolah ataupun milad madrasah diharapkan bisa membangkitkan karakter kepedulian sosial dalam diri peserta didik. Pengembangan karakter mandiri bisa juga dilakukan dengan kegiatan tahunan Persami, Perkemahan Sabtu Minggu, menyambut peringatan hari pramuka yang jatuh setiap tanggal 14 Agustus setiap tahunnya.

Yang terakhir namun yang paling penting adalah keteladanan. Dalam hal inI guru sebagai tenaga pendidik dan pegawai di sekolah sebagai tenaga kependidikan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter siswanya. Guru dan pegawai adalah contoh terdekat pribadi yang berkarakter bagi siswa. Pada sekolah sekolah fullday, hampir seharian siswa beinteraksi dengan gurunya. Dari mulai dari pukul 6.30 sampai dengan pukul 15.00 sore siswa melihat yang dilakukan bapak ibu guru, mendengar yang diucapkan guru, memandang ekspresi dan raut muka guru, mengamati apa yang dipakai dan diperbuat guru, bahkan siswa juga mampu merasakan apa yang dirasakan gurunya. Mereka menghasiskan lebih banyak waktu dengan gurunya di sekolah maupun di madrasah dibanding dengan orang tua mereka di rumah. Guru yang berkarakter baik akan menjadi pendorong yang efektif dalam pembentukan karakter dan kepribadian siswanya dalam berbagai hal. Cara berucap, bertingkah laku, berprinsip dari seorang guru akan menjadi contoh realistis bagi siswanya. Moralitas dan integritas serta komitmen yang dimiliki guru mempunyai andil besar dalam membentuk karakter siswanya.

Semoga amanah yang dipercayakan kepada para guru untuk membentuk anak anak Indonesia yang berkarakter bisa dilaksanakan dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab. Semoga.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali